
Percepatan transisi energi menuju sistem kelistrikan yang lebih bersih tidak hanya bergantung pada pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga membutuhkan jaringan transmisi yang mampu menghubungkan sumber energi dengan pusat-pusat kebutuhan listrik. Tanpa infrastruktur transmisi yang memadai, potensi energi bersih yang tersebar di berbagai daerah akan sulit dimanfaatkan secara optimal.
Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus dalam seminar diseminasi bertajuk Engineering Development Roadmap for Green Transmission in Supporting Accelerated Renewable Energy Development. Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, PLN, penyedia teknologi, hingga pelaku industri untuk membahas kesiapan sistem transmisi Indonesia dalam mendukung percepatan pemanfaatan energi terbarukan.
Ketua Tim Kajian Roadmap Enjiniring Bidang Transmisi Hijau, Dermawan Wibisono, mengatakan target besar transisi energi harus diterjemahkan ke dalam peta jalan yang jelas, mulai dari pilihan teknologi, tahapan implementasi, kebutuhan investasi, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kita sudah menandatangani Paris Agreement pada 2015 dan Indonesia menargetkan Net Zero Emission pada 2060. Namun untuk menuju ke sana, kita harus menentukan teknologi apa yang paling tepat dan perlu segera diterapkan,” ujar Dermawan.
Menurutnya, roadmap menjadi instrumen penting agar target transisi energi tidak berhenti sebagai komitmen, tetapi benar-benar diwujudkan melalui langkah-langkah yang terukur.
“Kita sering menyampaikan tujuan besar, tetapi bagaimana mencapainya itulah yang harus disusun secara rinci,” katanya.
Hubungkan Potensi Energi dengan Pusat Konsumsi
Dermawan menjelaskan tantangan Indonesia bukan hanya terletak pada besarnya potensi energi terbarukan, tetapi juga pada penyebaran sumber energinya yang berada jauh dari pusat-pusat konsumsi listrik.
Potensi energi surya banyak terdapat di kawasan timur Indonesia, panas bumi tersebar di berbagai wilayah, sementara sumber energi lainnya juga berada di lokasi yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat sistem transmisi menjadi elemen yang sangat menentukan keberhasilan transisi energi.
“Potensi energi kita tersebar di berbagai daerah. Karena itu diperlukan teknologi transmisi yang mampu menghubungkan seluruh sumber energi tersebut dengan pusat beban,” ujarnya.
Salah satu teknologi yang dinilai memiliki prospek besar adalah High Voltage Direct Current (HVDC) untuk transmisi jarak jauh dan interkoneksi antarpulau. Menurut Dermawan, teknologi tersebut layak dipersiapkan mengingat karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Kita ingin meningkatkan efisiensi sistem transmisi. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi pemerintah, sektor swasta, penyedia teknologi, dan para ahli di Indonesia,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan transmisi hijau tidak hanya bergantung pada teknologi. Tantangan terbesar justru berada pada kebutuhan investasi yang besar dan kesiapan sumber daya manusia.
“Transmisi membutuhkan biaya yang sangat besar dan tidak mungkin dikerjakan sendiri. Karena itu kita perlu belajar dari praktik terbaik negara lain sekaligus menyiapkan SDM Indonesia agar mampu menguasai teknologinya,” ujarnya.
Jadi Kompas Pengembangan Sistem Kelistrikan
Dari sisi PLN, pengembangan transmisi hijau dipandang sebagai komponen utama dalam membangun sistem kelistrikan masa depan yang lebih andal dan mampu mengakomodasi peningkatan pemanfaatan energi terbarukan.
Vice President Transmission and Distribution Technology and Engineering PT PLN (Persero), Buyung Sofiarto Munir, mengatakan jaringan transmisi berperan menghubungkan wilayah yang memiliki potensi energi terbarukan dengan kawasan yang menjadi pusat konsumsi listrik.
“Transmisi hijau menjadi penghubung antara daerah yang kaya sumber energi terbarukan dengan pusat-pusat beban listrik,” ujarnya.
Ia menambahkan sistem kelistrikan juga harus mampu mengantisipasi karakter pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti tenaga surya dan angin, sehingga diperlukan jaringan yang lebih fleksibel serta didukung teknologi digital.
“Energi terbarukan tidak selalu tersedia setiap saat. Tantangannya adalah bagaimana sistem tetap mampu menyediakan listrik secara andal kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Buyung, roadmap enjiniring menjadi panduan strategis dalam menentukan arah pengembangan teknologi transmisi, digitalisasi, hingga pembangunan smart grid di masa depan.
“Roadmap engineering menjadi kompas bagi PLN dalam menentukan arah pengembangan sistem transmisi ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perencanaan sistem transmisi harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan lokasi pembangkit, pertumbuhan kebutuhan listrik, kawasan industri, pusat data, keandalan sistem, aspek keamanan operasi, hingga keekonomian investasi.
“Dengan perencanaan yang matang, investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi sistem kelistrikan nasional,” katanya.
PLN Enjiniring Perkuat Transformasi
Sejalan dengan agenda penguatan sistem ketenagalistrikan nasional, PLN Enjiniring juga memasuki babak baru melalui perubahan susunan direksi yang diharapkan mampu mempercepat transformasi perusahaan.
Sekretaris Perusahaan PLN Enjiniring, Anita Widyiastuti, mengatakan pergantian kepemimpinan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat tata kelola perusahaan sekaligus meningkatkan peran PLN Enjiniring sebagai perusahaan konsultan enjiniring dalam mendukung pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan dan transisi energi nasional.
Berdasarkan keputusan pemegang saham, susunan direksi terbaru terdiri atas Handy Wihartady sebagai Direktur Utama, Ardhi Tartahadi sebagai Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha, Warsono sebagai Direktur Enjiniring, serta Martono sebagai Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Human Capital.
Menurut Anita, perusahaan akan terus memperkuat posisinya sebagai Engineering Excellence Center di lingkungan PLN Group melalui penyediaan solusi enjiniring yang inovatif dan terintegrasi guna mendukung implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, percepatan transisi energi, serta pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang andal, efisien, dan berkelanjutan.
Selain itu, PLN Enjiniring juga akan terus menjalankan peran sebagai guardian spending melalui penyusunan kajian, perencanaan, dan solusi enjiniring yang memastikan setiap investasi di sektor ketenagalistrikan dilakukan secara efektif dan memberikan nilai tambah.
Pada kesempatan tersebut, perusahaan juga menyampaikan apresiasi kepada Chairani Rachmatullah atas kontribusi dan kepemimpinannya selama menjabat Direktur Utama. Di bawah kepemimpinannya, PLN Enjiniring dinilai berhasil memperkuat fondasi transformasi perusahaan, meningkatkan kapabilitas enjiniring, serta memperluas kontribusi terhadap berbagai proyek strategis ketenagalistrikan nasional.
